Surabaya, Indonesia) Pada 22 Oktober 2025, Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate) pada level 4.75%. Keputusan ini konsisten dengan sikap bank sentral dalam beberapa bulan terakhir yang berfokus pada menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. Kebijakan moneter yang stabil ini terjadi di tengah likuiditas perbankan yang cukup longgar dan tekanan nilai tukar Rupiah yang masih perlu diwaspadai.
Keputusan BI ini bukan sekadar rutinitas bulanan, melainkan cerminan dari strategi makroprudensial yang komprehensif. Dalam pernyataan resminya, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa kebijakan ini konsisten dengan fokus pada stabilisasi nilai tukar Rupiah dan pengendalian inflasi, sekaligus tetap mendorong pemulihan pertumbuhan ekonomi.
Detail Kebijakan dan Kondisi Perbankan
Selain mempertahankan BI Rate pada 4.75%, bank sentral juga menahan Deposit Facility Rate di level 3.75% dan Lending Facility Rate pada 5.50%. Konfigurasi suku bunga turunan ini mencerminkan beberapa hal penting:
Pertama, spread antara Lending Facility Rate dan Deposit Facility Rate yang sebesar 175 basis points menunjukkan bahwa perbankan masih memiliki ruang yang cukup untuk intermediasi. Kondisi ini secara teoritis seharusnya mendorong penyaluran kredit ke sektor riil, meskipun dalam praktiknya masih perlu didukung oleh faktor fundamental lainnya.
Kedua, kebijakan ini ditempatkan dalam konteks yang lebih luas dimana pertumbuhan kredit perbankan hingga kuartal III-2025 tercatat sebesar 10.2% (yoy), sementara dana pihak ketiga tumbuh 8.7% (yoy). Artinya, terdapat ruang likuiditas yang memadai untuk mendukung ekspansi bisnis, meskipun risiko global masih perlu diwaspadai.
Dampak Langsung terhadap Dunia Usaha
Dampak Positif yang Perlu Dioptimalkan
- Kepastian Biaya Modal dan Pembiayaan
Keputusan BI memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam menyusun rencana keuangan dan investasi. Dengan suku bunga yang stabil, perusahaan dapat lebih akurat dalam memproyeksikan biaya pembiayaan, baik untuk modal kerja maupun investasi jangka menengah.
“Stabilitas suku bunga sangat membantu kami dalam menyusun anggaran perusahaan untuk tahun depan,” ujar Valen, CFO sebuah perusahaan manufaktur di Surabaya. “Kami bisa lebih percaya diri dalam menjalankan ekspansi ke daerah-daerah baru.”
- Stabilitas Arus Kas Perusahaan
Bagi perusahaan yang memiliki pinjaman dengan suku bunga mengambang, keputusan BI ini berarti tidak ada kenaikan beban bunga dalam jangka pendek. Hal ini membantu menjaga stabilitas arus kas operasional, khususnya bagi UMKM dan perusahaan menengah yang sensitif terhadap perubahan suku bunga. - Peluang Ekspansi dan Investasi
Kondisi suku bunga yang stabil di level moderat membuka peluang bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi dan investasi. Sektor-sektor seperti properti, manufaktur, dan infrastruktur cenderung mendapatkan manfaat terbesar dari kondisi ini.
Potensi Risiko yang Perlu Diwaspadai
- Tekanan Nilai Tukar dan Biaya Input
Meskipun suku bunga stabil, tekanan pada nilai tukar Rupiah masih perlu diwaspadai. Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor perlu menyiapkan strategi hedging yang tepat untuk memitigasi risiko volatilitas kurs. - Efek Psikologis di Pasar Keuangan
Stabilitas suku bunga acuan tidak serta merta diikuti oleh penurunan suku bunga pinjaman di level konsumen. Perlu waktu bagi transmisi kebijakan moneter untuk benar-benar dirasakan oleh pelaku usaha di lapangan. - Keterbatasan Stimulus Fiskal
Kebijakan moneter yang stabil perlu didukung oleh stimulus fiskal yang memadai. Jika anggaran pemerintah terkendala, efektivitas kebijakan moneter dalam mendorong pertumbuhan ekonomi bisa tidak optimal.
Strategi Bisnis Menghadapi Kondisi Ini
Bagi Perusahaan yang Berutang:
- Lakukan restrukturisasi utang dengan mempertimbangkan fixed rate loan untuk menghindari fluktuasi bunga
- Manfaatkan window of opportunity untuk konsolidasi utang
- Pertimbangkan skema refinancing jika memungkinkan
Bagi Perusahaan yang Berinvestasi:
- Manfaatkan kondisi suku bunga stabil untuk melakukan investasi dalam aset produktif
- Pertimbangkan pembiayaan jangka menengah untuk ekspansi bisnis
- Lakukan diversifikasi sumber pembiayaan, tidak hanya mengandalkan perbankan
Bagi Perusahaan Ekspor-Impor:
- Implementasi risk management yang ketat terhadap fluktuasi nilai tukar
- Diversifikasi sumber bahan baku untuk mengurangi ketergantungan impor
- Optimasi supply chain untuk meningkatkan efisiensi biaya
Outlook Kebijakan
Memasuki kuartal IV-2025, outlook kebijakan moneter BI diperkirakan akan tetap prudent. Beberapa analis memprediksi BI akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 4.75% hingga akhir tahun, dengan kemungkinan penyesuaian pada kuartal I-2026 tergantung perkembangan ekonomi global.
Faktor-faktor yang akan mempengaruhi keputusan BI ke depan antara lain:
- Perkembangan inflasi inti dan tekanan harga komoditas global
- Dinamika nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar
- Kondisi ekonomi global dan kebijakan the Fed
- Pertumbuhan ekonomi domestik dan kinerja ekspor
Insight dari ALS Advisory
Sebagai mitra strategis bisnis, ALS Advisory merekomendasikan beberapa langkah proaktif yang dapat diambil perusahaan dalam menghadapi kondisi ini:
Pertama, lakukan strategic financial review untuk mengidentifikasi peluang optimasi di tengah stabilitas suku bunga. Kedua, perkuat fundamental keuangan dengan meningkatkan efisiensi operasional dan mengoptimalkan struktur modal. Ketiga, manfaatkan teknologi finansial untuk meningkatkan akurasi forecasting dan risk management.
“Stabilitas suku bunga bukanlah akhir, melainkan awal dari perencanaan strategis yang lebih matang,” jelas tim analis ALS Advisory. “Perusahaan perlu membangun ketahanan finansial dan strategi bisnis yang adaptif untuk menghadapi berbagai skenario ekonomi ke depan.”
Kesimpulan
Keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan pada 4.75% memberikan sinyal positif bagi stabilitas ekonomi nasional. Namun, pelaku usaha perlu tetap waspada terhadap berbagai risiko eksternal, terutama yang berkaitan dengan nilai tukar dan harga komoditas global.
Dengan pendekatan yang tepat, kondisi moneter yang stabil ini dapat menjadi momentum bagi perusahaan untuk memperkuat fundamental bisnis dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan ekonomi ke depan.
Sumber Referensi:
- BI Rate – Statistik Bank Indonesia
- BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75% saat RDG Oktober – Ipotnews (Indo Premier)
- Trading Economics Indonesia – Calendar October 2025
- Kontan Nasional – Menebak Arah BI Rate pada RDG Oktober 2025

Leave a Reply